KUALA LUMPUR — Cadangan menaikkan gaji minimum hingga RM3,100 sebulan berpotensi mempercepat penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan automasi di sektor bisnis. Risiko itu muncul jika peningkatan biaya tenaga kerja tidak disusul oleh kenaikan produktivitas.
Bekas pemimpin kanan DAP, Ronnie Liu Tian Khiew, mengingatkan bahwa majikan yang mengalami lonjakan mendadak dalam kos buruh mungkin mempertimbangkan teknologi sebagai pilihan yang lebih menguntungkan untuk mengurangi beban operasional.
Potensi percepatan adopsi teknologi
Peningkatan upah dapat mendorong perusahaan menilai kembali struktur biaya mereka. Jika produktivitas tidak naik sebanding, investasi pada AI dan automasi menjadi alternatif untuk menekan biaya jangka panjang.
Sikap pengusaha terhadap kenaikan kos buruh
Menurut pengamatan yang disampaikan Ronnie Liu, lonjakan kos buruh bisa membuat pengusaha cenderung memilih solusi teknologi. Pilihan ini dilihat dari sudut efisiensi ekonomi ketika biaya manusia meningkat tajam.
Implikasi kebijakan bagi produktivitas
Analisis kebijakan upah minimum perlu mempertimbangkan hubungan antara kenaikan gaji dan produktivitas. Tanpa langkah untuk meningkatkan efisiensi kerja, kebijakan upah tinggi berisiko mendorong substitusi tenaga kerja dengan teknologi.
Perdebatan publik dan langkah lanjutan
Perbincangan terkait kadar gaji minimum dan dampaknya terhadap automasi berpotensi memunculkan perdebatan di kalangan pembuat kebijakan, pengusaha, dan pekerja. Pendekatan holistik yang mengaitkan upah dengan strategi peningkatan produktivitas menjadi bahan pertimbangan penting.
Pernyataan terkait potensi percepatan AI ini dilaporkan oleh Utusan Malaysia, mengutip pandangan Ronnie Liu Tian Khiew. Perdebatan mengenai keseimbangan antara upah layak dan daya saing perusahaan diperkirakan akan berlanjut seiring kajian lebih lanjut terhadap dampak ekonomi kebijakan tersebut.
Sumber: Utama
