Rupiah ditutup melemah pada awal pekan, turun 0,22% dan berada di level Rp17.843 per dolar AS pada Senin (22/6/2026). Tekanan datang dari sentimen geopolitik serta perkembangan data ekonomi luar negeri, disertai kondisi inflasi dalam negeri.
Sentimen soal ketegangan antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat dolar AS dan menekan rupiah. Selain itu, rilis data ekonomi AS turut mendorong penguatan mata uang AS terhadap mata uang negara berkembang.
Faktor pendorong pelemahan
Sentimen perang AS-Iran meningkatkan permintaan aset safe haven, termasuk dolar AS, sehingga memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Kondisi geopolitik seperti ini umumnya mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Peran data ekonomi AS
Rilis data ekonomi AS pada periode tersebut turut memberi pengaruh pada pergerakan dolar AS. Data yang menguat dapat meningkatkan ekspektasi suku bunga atau prospek ekonomi AS, sehingga membuat dolar semakin perkasa terhadap mata uang lain.
Pengaruh inflasi domestik
Inflasi di dalam negeri menjadi faktor tambahan yang memengaruhi nilai tukar. Tekanan inflasi dapat memengaruhi persepsi terhadap daya beli rupiah dan ekspektasi kebijakan moneter, sehingga turut berkontribusi pada tekanan terhadap rupiah.
Prospek jangka pendek
Dalam jangka pendek, nilai tukar berpotensi tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan rilis data ekonomi global. Pemantauan terhadap indikator inflasi domestik juga penting untuk membaca arah pergerakan rupiah ke depan.
Pergerakan pasar pada hari itu menunjukkan penguatan dolar AS yang membuat rupiah berakhir melemah ke level Rp17.843 per dolar Amerika Serikat pada Senin (22/6/2026).
Sumber: Bisnis.com
