Giuluhan puisi dan tepuk tangan menyambut kehadiran Sutardji Calzoum Bachri dalam pertemuan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026. Di panggung Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, sutradara kata yang kerap disebut “Presiden Penyair Indonesia” itu membacakan sejumlah puisi bagi peserta yang datang dari berbagai daerah dan sejumlah negara.
Sebelum sesi pembacaan dimulai, suasana menjadi haru ketika peserta bersama para musisi memberi kejutan berupa lagu “Selamat Ulang Tahun”. Kejutan itu menjadi pengakuan atas karyanya sekaligus perayaan ulang tahun Sutardji yang ke-85 selama penyelenggaraan PPN XIV, 22–28 Juni 2026.
Sutardji Tampil di ISBI Aceh
Pentas di ISBI Aceh menjadi momen penghormatan bagi perjalanan sastra Sutardji. Dengan gaya pembacaan khasnya, ia menegaskan peran puisi sebagai medium penghayatan dan refleksi. Setiap bait yang dibawakan menegaskan bagaimana kata-kata merekam pengalaman manusia dan perubahan zaman.
Suasana Perayaan Ulang Tahun
Perayaan kecil namun bermakna terjadi sebelum pembacaan: peserta dan musisi bersama-sama menyanyikan “Selamat Ulang Tahun” untuk Sutardji. Momen itu bukan hanya bentuk apresiasi atas usia yang dicapai, tetapi juga pengakuan atas kontribusi panjangnya dalam dunia sastra Indonesia.
Kredo Puisi dan Warisan Sastra
Sutardji dikenal sebagai figur penting yang memperkenalkan konsep “Kredo Puisi”, sebuah pendekatan yang menempatkan hubungan manusia dengan kata dan makna di pusat pengalaman puisi. Kehadirannya di PPN XIV tidak sekadar menampilkan seorang maestro, melainkan juga menghubungkan generasi lama dan baru penyair Indonesia.
PPN XIV Aceh sebagai Ruang Kolaborasi
PPN XIV Aceh yang berlangsung pada 22–28 Juni menghadirkan penyair dari berbagai daerah serta sejumlah negara. Forum ini menjadi ruang kolaborasi kebudayaan, memperkuat hubungan antarbangsa melalui puisi serta memberi panggung bagi dialog sastra lintas generasi.
Dalam panggung sastra di Aceh, penampilan Sutardji memperlihatkan bahwa puisi tetap hidup sebagai sarana ekspresi, dialog, dan suara kemanusiaan yang melampaui waktu.
Sumber: Parahyangan-post
