Membumikan Langit Syariah: Berkah Lebih dari Angka

Oleh Nanda Zelyka Rachmania

Republika Online, 2026-07-12 02:28:04

Perdebatan soal kemajuan ekonomi syariah di Indonesia acapkali berlangsung di meja-meja rapat dan ruang-ruang formal. Selama nyaris tiga dekade, wacana itu lebih banyak berpusat pada ukuran kuantitatif, terutama indikator yang dipakai dunia perbankan.

Pandangan ini menantang penafsiran keberhasilan: apakah prestasi industri syariah cukup diukur dari angka-angka finansial semata, atau harus dilihat dari dampak nyata bagi masyarakat? Gagasan untuk “membumikan” konsep syariah muncul sebagai respons atas kebutuhan memperluas sudut pandang evaluasi.

Mengukur Keberhasilan di Luar Indikator Perbankan

Peralihan fokus pengukuran membuka ruang bagi indikator yang lebih luas. Selain pertumbuhan aset dan pangsa pasar, diperlukan penilaian terhadap aspek-aspek nonfinansial yang mencerminkan manfaat syariah bagi masyarakat. Pendekatan ini menempatkan tujuan sosial dan ekonomi riil sebagai bagian dari ukuran keberhasilan.

Membawa Syariah ke Ranah Ekonomi Riil

Upaya pembumian menuntut penerapan prinsip syariah pada aktivitas ekonomi sehari-hari, bukan hanya produk perbankan. Hal ini mencakup interaksi dengan pelaku usaha kecil dan menengah, serta upaya memperkuat rantai nilai yang mencerminkan prinsip-prinsip syariah secara praktis.

Tantangan Implementasi dan Kultur

Salah satu hambatan adalah kecenderungan wacana yang teknis dan terpusat, yang kadang menjauhkan diskusi dari pengalaman lapangan. Mengatasi tantangan ini memerlukan dialog yang lebih inklusif antara regulator, pelaku industri, akademisi, dan komunitas yang menjadi sasaran program.

Menuju Pengukuran yang Lebih Relevan

Mewujudkan pembumian berarti merancang kerangka evaluasi yang menggabungkan indikator kuantitatif dan kualitatif. Metode yang lebih fleksibel dan berbasis partisipasi dapat membantu menangkap dampak sosial, aksesibilitas, dan kualitas layanan yang selama ini kurang terukur.

Perubahan paradigma penilaian tidak menghapus pentingnya kinerja finansial, melainkan membawa dimensi baru agar keberkahan prinsip syariah terasa bukan hanya dalam angka, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat. Republika Online memuat gagasan ini sebagai upaya menstimulus perbincangan tentang arah ekonomi syariah yang lebih berakar pada kebutuhan riil.

Sumber: Republika Online