Polarisasi Politik Picu Perpecahan, kata Yuneswaran

KUALA LUMPUR — Polarisasi politik diidentifikasi sebagai salah satu penyebab utama perpecahan dalam masyarakat, menurut Timbalan Menteri Perpaduan Negara, Yuneswaran Ramaraj. Ia menyoroti bagaimana perbedaan ideologi dan banyaknya partai politik mendorong terbentuknya kelompok pendukung yang kaku.

Yuneswaran, yang juga Ahli Parlimen Segamat, menegaskan bahwa ketegangan tidak hanya berasal dari perbedaan ras atau agama, tetapi juga dari faktor ekonomi yang menciptakan jurang di antara kelompok masyarakat. Pernyataan itu disampaikan ketika berucap pada program bersama media di sebuah hotel terkemuka di ibu negara pada Isnin.

Polarisasi politik sebagai pemicu perpecahan

Menurut Yuneswaran, keberadaan banyak partai politik dengan ideologi berbeda memudahkan munculnya puak-puak penyokong tegar yang memperburuk perpecahan sosial. Dalam pidatonya ia mengajukan pertanyaan retoris yang menggambarkan keprihatinannya:

“Kenapa rakyat berpecah? Bukan sahaja disebabkan dasar ataupun apa sahaja, termasuklah parti politik juga menjadi punca utama wujudnya kelompok-kelompok dan puak-puak di bawah menjadi penyokong tegar yang menjadikan perpecahan itu berlaku.”

Ia menambahkan bahwa polarisasi pengundi turut memberi dampak pada hubungan antarwarga, sehingga upaya membangun keharmonian membutuhkan perhatian terhadap dinamika politik yang berkembang.

Jurang sosioekonomi dan dampaknya

Yuneswaran mengingatkan bahwa isu perpaduan tidak bisa disederhanakan hanya lewat program kebudayaan atau perayaan. Ketidakseimbangan pendapatan, kesempatan kerja, dan kondisi ekonomi dapat memicu ketidakharmonian, termasuk di dalam kelompok yang sama.

Ia menegaskan hal ini melalui pernyataannya: “Perpaduan bukan hanya mengenai program atau sambutan perayaan semata-mata. Jurang ekonomi dan jurang peluang pekerjaan juga boleh mewujudkan ketidakharmonian sosial dalam kalangan rakyat.”

Peran media dan perlunya kerjasama

Kementerian Perpaduan Negara, menurut Yuneswaran, memerlukan dukungan berbagai pihak termasuk pengamal media untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya perpaduan. Ia menyampaikan penghargaan kepada media atas bantuan dalam menyampaikan pesan kementerian.

Yuneswaran juga memuji kontribusi media dalam menangani isu 3R (kaum, agama dan institusi diraja) melalui tulisan dan laporan yang membantu memperjelas pemahaman masyarakat.

Keadaan di peringkat akar umbi dan kestabilan politik

Dalam pengamatannya di beberapa negeri, Yuneswaran melihat masyarakat di akar umbi umumnya hidup rukun. Ia menilai bahwa kesan perpecahan sering diperkuat oleh perbincangan politik dan pemberitaan.

Ia menggambarkan situasi tersebut dengan kata-kata: “Sekiranya kita turun ke bawah dan melihat sendiri keadaan masyarakat, orang ramai sebenarnya sangat bersatu.” dan menambahkan, “Kalau pergi ke kedai kopi, rakyat sangat bersatu. Cuma kadang-kadang isu politik dan berita politik yang menyebabkan persepsi tertentu timbul dalam masyarakat.”

Yuneswaran juga menekankan pentingnya kestabilan politik bagi keharmonian sosial, merujuk pada hasil kajian Indeks Perpaduan Nasional (IPNAS) yang pernah dilakukan.

Kementerian berharap dapat terus bekerja sama dengan media dan pihak berkepentingan lain untuk meredam polarisasi serta mengatasi jurang sosioekonomi demi memperkuat perpaduan masyarakat.

Sumber: Sinar Harian