Mode Lolita yang lahir di lingkungan Harajuku, Jepang, semakin mendapat tempat di pasar fesyen Tiongkok, khususnya di kota-kota besar seperti Shanghai. Tren ini berkembang dari subkultur menjadi arus konsumen yang lebih luas.
Menurut laporan Jawapos (Tanggal: 2026-07-20 05:49:11), kenaikan minat terhadap estetika manis dan detail berornamen membuat fesyen Lolita jadi komoditas yang populer di kalangan penggemar serta pembeli baru di Tiongkok. Faktor budaya populer turut mempercepat penyebaran gaya ini.
Asal-usul dan ciri estetika Lolita
Fesyen Lolita berakar dari gaya jalanan Harajuku dan dikenal lewat siluet bertumpuk, renda, pita, serta nuansa imut yang kuat. Gaya ini menonjolkan penampilan yang menggabungkan unsur vintage dan fantasi, sehingga menarik perhatian komunitas yang mencari alternatif estetika dalam dunia fesyen.
Penerimaan di pasar Tiongkok
Di Tiongkok, terutama kota-kota besar, Lolita tidak sekadar jadi pakaian karnaval; ia mulai masuk ke toko ritel, butik khusus, dan platform daring yang melayani pembeli dengan selera niche. Popularitasnya di pasar lokal menunjukkan adanya permintaan yang terus tumbuh untuk pakaian bergaya unik dan personal.
Peran budaya ‘kawaii’ dalam pertumbuhan
Budaya ‘kawaii’ atau budaya kesayangan terhadap estetika imut disebut sebagai salah satu pendorong utama meningkatnya minat terhadap Lolita. Sensibilitas visual ini mempengaruhi preferensi konsumen, pemasaran, dan cara komunitas berbagi inspirasi gaya melalui media sosial.
Proyeksi pasar hingga 2030
Laporan Jawapos menyebutkan bahwa pasar fesyen Lolita di Tiongkok diproyeksikan mengalami pertumbuhan signifikan dan lebih dari dua kali lipat pada 2030. Proyeksi ini mencerminkan ekspektasi bahwa minat konsumen dan saluran distribusi akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Permintaan yang meningkat menandai pergeseran preferensi gaya di kalangan generasi muda dan kolektor fesyen, sekaligus membuka peluang bagi pelaku industri lokal dan internasional untuk menyesuaikan penawaran produk. Perkembangan selanjutnya diperkirakan akan dipengaruhi kombinasi tren budaya, kanal pemasaran, dan dinamika pasar ritel.
Sumber: Jawapos
