JAKARTA, 10 Agustus 2026 — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyatakan bahwa tidak semua persoalan di masyarakat mesti diatasi dengan teknologi canggih. Menurutnya, orientasi inovasi harus pada manfaat yang dirasakan pengguna.
Arif mencontohkan bahwa teknologi sederhana juga dapat menjadi solusi efektif, seperti penggunaan sepatu karet untuk kebutuhan tertentu. Pernyataan itu menegaskan pendekatan BRIN yang menempatkan kegunaan praktis di depan derajat kecanggihan teknologi.
Pandangan tersebut menggarisbawahi bahwa pilihan teknologi seharusnya menyesuaikan dengan konteks masalah dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.
Orientasi inovasi pada manfaat
Pernyataan Arif Satria menekankan bahwa pengembangan riset dan inovasi harus diarahkan pada manfaat nyata bagi masyarakat. Fokus pada hasil yang berguna menjadi tolok ukur dalam menentukan teknologi yang dikembangkan atau diterapkan.
Teknologi sederhana sebagai solusi
Arif menyebut teknologi sederhana, termasuk contoh seperti sepatu karet, sebagai alternatif yang layak pada kondisi tertentu. Pendekatan ini menunjukkan bahwa solusi praktis kadang lebih tepat ketimbang mengedepankan kecanggihan semata.
Pendekatan BRIN terhadap masalah sosial
Dalam pernyataannya, Kepala BRIN menggarisbawahi pentingnya menyesuaikan solusi dengan kebutuhan riil masyarakat. Prinsip orientasi pada manfaat menjadi acuan dalam menilai efektivitas suatu inovasi.
Relevansi bagi pelaku inovasi
Pesan yang disampaikan Arif relevan bagi peneliti, pengembang, dan pihak terkait yang merancang solusi teknologi. Menimbang manfaat praktis membantu memastikan inovasi memberi dampak langsung bagi pengguna.
Pernyataan Kepala BRIN ini mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi bukanlah tujuan akhir; yang utama adalah kemampuan solusi tersebut memenuhi kebutuhan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sumber: Republika Online
