SHAH ALAM — Upaya terus-menerus membentuk kesan bahwa ‘green wave’ merupakan ancaman bagi masyarakat bukan Melayu dinilai sebagai taktik politik yang mengalihkan perhatian publik dari masalah nyata negara.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Dewan Pemuda PAS Selangor, Ustaz Mohamed Sukri Omar. Menurutnya, “gelombang politik yang lahir melalui proses demokrasi tidak sepatutnya dijadikan momokan sehingga menimbulkan kebimbangan kepada rakyat, sedangkan mereka […]”
Pandangan dari Dewan Pemuda PAS Selangor
Ustaz Mohamed Sukri Omar menempatkan narasi tentang ‘green wave’ sebagai konstruksi politik yang tidak seharusnya menjadi alat untuk menakut-nakuti kelompok tertentu dalam masyarakat. Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatiran bahwa wacana semacam itu dapat menggeser perhatian dari isu-isu negara yang lebih mendesak.
Naratif politik dan fungsi pengalihan
Penggunaan narasi politik yang membentuk persepsi ancaman dapat berfungsi sebagai distraksi terhadap kekurangan atau krisis yang sedang dihadapi. Dalam konteks ini, klaim bahwa gelombang politik tertentu menjadi ancaman dikritik karena dianggap menutup diskusi tentang masalah substantif yang perlu diselesaikan.
Dampak terhadap ketegangan sosial
Menurut pandangan yang disampaikan, menjadikan fenomena politik sebagai momokan berpotensi menimbulkan kebimbangan di kalangan rakyat dan memecah perhatian publik. Implikasi sosial dari strategi semacam itu perlu diperhatikan agar tidak memperburuk suasana ketegangan antar-komunitas.
Pentingnya wacana demokratis
Penekanan pada proses demokrasi dalam pernyataan Ustaz Mohamed Sukri Omar menyoroti bahwa perubahan politik seharusnya ditanggapi melalui dialog dan mekanisme demokratik, bukan melalui penyebaran ketakutan.
Pernyataan dari Ketua Dewan Pemuda PAS Selangor ini membuka ruang untuk refleksi mengenai bagaimana narasi politik dibentuk dan dipakai, serta konsekuensinya terhadap fokus publik terhadap isu-isu negara.
Sumber: Harakahdaily
