Ratusan warga Jatirejo, Rejoso berkumpul untuk menyelenggarakan nyadran di makam desa pada 4 Juli 2026. Kegiatan ini dipusatkan pada doa untuk leluhur dan pembersihan area pemakaman.
Selain ziarah dan doa, warga juga melakukan bersih desa sebagai bagian dari tradisi yang menyejukkan kebersamaan warga. Acara yang dilaporkan oleh Berita Jawa Timur tersebut menekankan pentingnya menjaga warisan budaya Jawa di tengah arus perubahan.
Pelaksanaan nyadran di makam desa
Rangkaian acara nyadran berlangsung dengan ziarah ke makam dan pembacaan doa bersama. Warga secara bergotong-royong membersihkan makam dan sekitarnya untuk menunjang suasana khidmat dalam peringatan leluhur.
Doa leluhur sebagai pengikat komunitas
Doa bersama menjadi momen bagi warga untuk berkumpul dan mempererat tali kekeluargaan serta kebersamaan antarrukun. Tradisi ini berfungsi tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai ajang silaturahmi antarwarga.
Bersih desa sebagai tindakan kolektif
Kegiatan bersih desa yang menyertai nyadran melibatkan partisipasi luas warga. Kerja bakti ini membantu menjaga kebersihan makam dan lingkungan pemukiman sekaligus memperkuat rasa tanggung jawab bersama terhadap fasilitas publik setempat.
Pelestarian budaya Jawa di era modern
Nyadran di Jatirejo, Rejoso menjadi contoh bagaimana tradisi lokal dipertahankan di tengah perkembangan zaman. Kegiatan yang menggabungkan ritual, sosial, dan kerja bakti itu berperan dalam meneruskan nilai-nilai budaya Jawa kepada generasi berikutnya.
Kegiatan nyadran di Jatirejo, seperti diberitakan Berita Jawa Timur, menunjukkan bagaimana tradisi lokal masih mampu menyatukan warga dan menjaga identitas budaya tanpa mengurangi nilai kebersamaan dan gotong-royong.
Sumber: Berita Jawa Timur
