Dunia saat ini menunjukkan tanda-tanda ketegangan yang meningkat. Berbagai konflik bersenjata, perang dagang, serangan siber, dan perebutan pengaruh antarnegara terus memanas, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut.
Di tengah situasi itu, Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti mengingatkan bahwa pendekatan lama yang hanya mengenal menang dan kalah sudah tidak relevan lagi. Menurutnya, ancaman modern menuntut cara berpikir yang berbeda agar risiko konflik dan kerugian bersama dapat diminimalkan.
Gambaran konflik yang mengkhawatirkan
Azis menyoroti beragam bentuk ketegangan internasional yang muncul belakangan ini, mulai dari konfrontasi militer hingga persaingan ekonomi dan serangan di ranah maya. Pola-pola tersebut saling berkaitan dan memperbesar potensi ketidakstabilan global.
Pandangan Azis Subekti
Menurut Azis, negara-negara tidak bisa terus memakai cara berpikir lama yang hanya mengenal menang dan kalah. Ia menekankan perlunya evaluasi strategi hubungan internasional agar tidak terjebak pada logika zero-sum yang berpotensi merugikan banyak pihak.
Peralihan ke paradigma koeksistensi
Azis menilai dunia perlu beralih dari paradigma kemenangan menuju paradigma koeksistensi. Perubahan ini, tambahnya, penting untuk membangun mekanisme kerja sama yang lebih tahan terhadap guncangan dan mengurangi kemungkinan konfrontasi langsung.
Implikasi bagi kebijakan
Penerapan pola koeksistensi dapat berdampak pada cara negara menyusun kebijakan luar negeri dan keamanan. Azis menyarankan pendekatan yang lebih mengedepankan dialog, diplomasi, dan solusi bersama daripada sekadar kompetisi yang agresif.
Pernyataan Azis Subekti ini diangkat dalam pemberitaan Rakyat Merdeka, yang menyorot perlunya perubahan paradigma di tengah kondisi internasional yang kian menantang.
Sumber: Rakyat Merdeka
