Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) H.A. Effendy Choirie, yang akrab disapa Gus Choi, menyatakan bahwa ada tokoh dari kalangan aktivis dan akademisi yang memiliki kapabilitas untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Pernyataan itu menekankan bahwa meskipun sejumlah figur dinilai layak, penentuan akhir kepemimpinan PBNU tetap berada di tangan muktamirin. Informasi terkait disampaikan melalui laporan JPNN pada 16 Juli 2026.
Pernyataan Gus Choi
Gus Choi menyampaikan pandangannya mengenai calon pemimpin PBNU dengan menyoroti kapasitas para tokoh dari berbagai latar — khususnya aktivis dan akademisi. Dia menilai ada kandidat yang pantas memegang posisi di tubuh organisasi besar tersebut.
Tiga guru besar yang dinilai layak
Menurut pernyataan yang dilaporkan, Gus Choi menyebut tiga guru besar sebagai sosok yang layak memimpin PBNU. Penyebutan ini menunjukkan adanya perhatian terhadap figur akademis dalam proses regenerasi kepemimpinan organisasi.
Peran muktamirin sebagai penentu
Meski menyorot kelayakan beberapa tokoh, Gus Choi menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai pemimpin PBNU ada pada muktamirin. Pernyataan ini menegaskan kembali mekanisme pengambilan keputusan kolektif dalam konteks organisasi.
Konteks publikasi
Pernyataan Gus Choi terkait figur-figur yang dianggap layak memimpin PBNU dilaporkan oleh JPNN pada 16 Juli 2026. Isu regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi tetap menjadi perhatian publik dan pengurus.
Pernyataan Gus Choi mencerminkan pandangan tokoh publik mengenai calon pemimpin PBNU, sambil menegaskan bahwa proses pemilihan dan keputusan akhir berada di tangan muktamirin.
Sumber: Jpnn
