Malaysia Ikuti Tren Asia Pasifik dalam Peningkatan Investasi AI

KUALA LUMPUR — Organisasi di Malaysia mempercepat investasi dalam kecerdasan buatan (AI) mengikuti arus yang terjadi di Asia Pasifik, namun banyak yang masih kesulitan mengukur keuntungan nyata dari pengeluaran tersebut. Laporan International Data Corporation (IDC) menunjukkan dorongan investasi kuat walau sejumlah kendala teknis dan finansial belum tertangani.

Menurut tinjauan IDC, perusahaan-perusahaan Malaysia terus meningkatkan alokasi anggaran untuk AI, tetapi masalah seperti transparansi biaya, kesiapan jaringan, dan aspek keamanan tetap menjadi hambatan utama dalam mewujudkan pengembalian investasi yang terukur.

Situasi investasi AI di Malaysia

IDC mencatat bahwa manajemen di banyak organisasi terdorong berinvestasi karena potensi teknologi, bukan selalu berdasarkan analisis ekonomi yang mendalam. Firma riset itu juga menyoroti bahwa sejumlah besar perusahaan memilih pendekatan agresif meski evaluasi awal minim. Dalam laporannya IDC menyertakan pernyataan berikut: “Di Malaysia, sebanyak 57.5 peratus organisasi menyatakan pihak pengurusan melabur dalam AI berdasarkan potensinya, kadang kala tanpa analisis ROI yang teliti manakala 35 peratus lagi mengakui mereka melabur secara agresif dengan penilaian yang sangat minimum. “Sebanyak 40 peratus organisasi di Malaysia menyatakan pelaksanaan AI memenuhi atau jauh melebihi jangkaan.”

Kendala pengukuran ROI dan biaya

Di antara organisasi yang melaporkan kegagalan dalam memenuhi ekspektasi pelaksanaan AI, 80% mengatakan biaya aktual lebih tinggi dari perkiraan atau proyek gagal mencapai ROI yang diharapkan. IDC juga mencatat bahwa separuh responden (50%) menyalahkan performa AI yang tidak sesuai harapan sebagai penyebab utama, sementara 40% lainnya menunjuk pada masalah performa jaringan atau konektivitas.

Kekhawatiran tentang pengendalian biaya dan risiko

Lebih dari separuh organisasi di Malaysia menyatakan kekhawatiran kehilangan kontrol terhadap pemantauan biaya AI dan ROI ketika penggunaan teknologi semakin meluas (54%). Selain itu, 52% mencatat munculnya risiko keamanan baru sebagai perhatian utama. Proporsi yang sama juga mengkhawatirkan potensi dampak negatif terhadap reputasi, keuangan, atau aspek hukum akibat perilaku AI yang tidak terduga.

Gambaran Asia Pasifik dan jurang antara investasi dan hasil

IDC menemukan pola serupa di seluruh Asia Pasifik: dorongan investasi yang kuat belum selalu berbanding lurus dengan hasil bisnis yang dapat diukur. Laporan tersebut mencatat bahwa “Dapatan kajian menunjukkan 37 peratus organisasi di Asia Pasifik melabur secara agresif dalam AI dengan penilaian yang sangat minimum manakala 61 peratus lagi merancang untuk mengutamakan pelaburan AI atau pembelajaran mesin dalam tempoh 12 bulan akan datang. “Namun, hanya 40 peratus organisasi di Asia Pasifik menyatakan pelaksanaan AI mereka telah memenuhi atau jauh melebihi jangkaan sekali gus membayangkan bahawa aspirasi terhadap AI tidak semestinya diterjemahkan kepada pulangan yang boleh diukur.”

Meningkatnya minat terhadap AI menuntut perhatian lebih pada tata kelola biaya, pengujian performa, kesiapan infrastruktur jaringan, dan mitigasi risiko keamanan agar investasi dapat memberikan manfaat bisnis yang jelas. IDC menekankan perlunya organisasi menggabungkan evaluasi ROI yang lebih ketat dan strategi pengelolaan risiko seiring memperluas penggunaan AI.

Laporan IDC ini menjadi pengingat bahwa meski investasi dalam AI tumbuh cepat, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada pengukuran hasil, pengelolaan biaya, serta kesiapan teknis dan keamanan yang matang.

Sumber: Astroawani