Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, dan dinamika pasar kerja disebut mendorong munculnya kecemasan finansial di masyarakat. Kondisi ini memengaruhi pola belanja dan pilihan konsumsi sejumlah orang.
Salah satu fenomena yang muncul adalah lipstick effect, yaitu kecenderungan membeli barang atau layanan yang memberi kepuasan emosional namun tetap relatif terjangkau sebagai bentuk apresiasi diri. Fenomena ini tercermin dari tetap ramainya pusat perbelanjaan dan kafe di tengah kekhawatiran soal kondisi ekonomi.
Apa itu lipstick effect?
Lipstick effect menggambarkan perilaku konsumen yang memilih produk yang memberi kenikmatan psikologis dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Pada intinya, pembelian semacam ini berfungsi sebagai self-reward ketika orang merasa cemas atau terbatas oleh kondisi keuangan.
Penyebab meningkatnya kecemasan finansial
Dampak pada perilaku konsumen
Akibat kecemasan finansial, sebagian konsumen cenderung mempertahankan pembelian yang memberi kepuasan emosional meski menahan pengeluaran lain yang lebih besar. Pola ini terlihat dari tetap padatnya aktivitas di mal dan kafe, indikasi bahwa konsumsi tetap berlangsung pada segmen produk terjangkau.
Peran literasi keuangan
Dalam konteks ini, literasi keuangan dinilai penting untuk membantu masyarakat mengelola emosi dan prioritas pengeluaran. Pemahaman dasar perencanaan anggaran dan pengelolaan risiko dapat membantu individu membedakan antara kebutuhan prioritas dan pembelian yang semata memberi kepuasan jangka pendek.
Catatan: Laporan terkait fenomena ini dipublikasikan oleh Rakyat Merdeka pada 15 Juli 2026.
Sumber: Rakyat Merdeka
